Sakit saya dimulai tahun 2012, mulainya kejang-kejang dan kepala sakit. Saya ke dokter, setelah diperiksa dokter mengatakan sakit epilepsi, suami saya katakan itu sakit biasa dan berobat jalan saja.

Tahun 2012 saya sudah keluar masuk rumah sakit 12 kali.

Tahun 2013 saya punya sakit lain lagi. Kejang-kejang, kepala sakit, jantung, malaria. Suami saya tanya dokter kenapa sakitnya, dokter bilang terjadi komplikasi

Selanjutnya tahun 2015 sakit lagi, dan masuk rumah sakit sudah 16 kali.

Tahun 2016 tiba-tiba jatuh sakit lagi, kejang bisa 3-4 jam baru kejangnya berhenti. Biasa keluarga akan pijit saat kejang, sampai badan saya biru dan hitam. Kalau kejang tidak sadar, tidak kenal anak-anak, suami, keluarga, tidak sadar sama sekali.

Kemudian periksa ke dokter karena rambut mulai rontok, kepala sakit tidak berhenti, kejang dalam 1 jam 3-4 kali kejang. Akhirnya dokter rujuk ke Makasar, discan kepala saya. Dokter bilang kenapa simpan penyakit sampai lama begini.

Saya bingung saya tanya saya sakitnya apa? Kemudian dokter bilang saya kena sakit kanker otak, naik stadium 4. Tapi puji Tuhan masih kuat kata dokter, menurut perkiraan dokter stadium 4 biasanya rambut rontok, mata buta, telinga tuli dan lumpuh

Dengan kondisi ini saya minta kesembuhan dari Tuhan, saya menangis. Tiba di Ambon ambil keputusan tidak mau ke dokter lagi.

Kemudian ada hamba Tuhan dari Jakarta yang datang membuat KKR di Ambon. Saat didoakan masih kuat berjalan, tapi minggu kedua sudah lemas. Tidak kuat jalan, lemas, darah sudah keluar dari hidung dan telinga, kepala sakit tidak tertahan, tidak bisa makan
Bulan Juli ada Ibu hamba Tuhan dari Jakarta datang. Ibu pegang tangan saya dan doakan dan saya bisa berjalan hingga saat ini.

Kemudian saya datang ke KKR Lapangan Merdeka, kepala masih sakit sekali, seluruh tubuh tulang-tulang sakit, pusing, berjalan harus pegang tangan orang lain. Kemudian saat didoakan, tiba-tiba ada kekuatan, dan saya yakin sembuh, dan saya benar-benar sembuh.

Terima kasih Tuhan buat mujizatmu atas saya. Sekarang saya sudah sembuh.